Kesehatan - Pandemi
Covid-19 Tidak Murni Sebabkan Kematian

Akun Facebook Sony H. Waluyo membagikan unggahan yang memaparkan beberapa hal mengenai Covid-19, dengan Narasi: Trump serius menarik diri dari WHO bukanlah tanpa alasan. Ketika pimpinan negara besar dan sangat berpengaruh menentang rekomendasi WHO maka ini mesti benar-benar digali apa alasannya.Trump tentu saja tidak gegabah dalam mengambil kebijakan terlebih ini menyangkut isu global yang menjadi pusat perhatian. Jika Trump tidak mendapatkan dukungan signifikan, ia juga terlalu mudah untuk digulingkan. Faktanya posisinya terlihat kuat sekalipun digempur kritikan dalam media massa.Munculnya analisa Dr Andrew Kaufman yang adalah ahli biologi molekuler tentang covid menguak tabir rekomendasi WHO yang dinyatakan tidak akurat sehingga identifikasi dan penangangannya menjadi tidak proporsional dan tentu saja malah menciptakan kegaduhan yang berbuntut banyak masalah ruwet.Dr Andrew Kaufman menyatakan sampel uji covid tidak dimurnikan sehingga ada kekeliruan identifikasi antara virus dengan exosome yang adalah materi genetik antibody. Inilah mengapa tes covid sering merujuk pada antibody reaktif sebagai acuan untuk deteksi infeksi virus.Tentu saja hasilnya menjadi sering meleset sebab antibody reaktif dapat timbul karena berbagai sebab dan bukan hanya karena oleh covid. Akibat dari terluka, flu biasa, gangguan bakteri dll tentu sudah sewajarnya akan memicu antibody reaktif.Oleh karena itu tak perlu heran jika banyak orang yang dites positif tidak menunjukkan gejala sakit parah dan bahkan dengan istirahat dan berbagai obat segera pulih kembali.Blow up media malah lebih sering menciptakan gangguan psikologis bagi banyak orang sehingga merasa seolah-olah sakit. Pikiran takut dan kawatir jelas sangat berpengaruh terhadap metabolisme tubuh.Lebih rumit lagi, rekomendasi WHO telah menggiring banyak negara melakukan lockdown yang menimbulkan kemacetan ekonomi dan pengangguran. Di Nepal disebutkan terjadi peningkatan kasus bunuh diri karena takut dan masalah ekonomi sebagai dampak lockdown. Jumlah 1200 kasus bunuh diri dalam 2 bulan bahkan lebih besar dari pada kematian karena covid.Takut, khawatir dan stress juga dialami para nakes sehingga tidak leluasa menangani pasien dengan akibat justru pasien yang perlu pertolongan dengan segera tidak tertangani. Seringkali kemudian hasil uji lab mendapati mereka yang meninggal tak tertolong ternyata negatif covid namun dimakamkan dengan protokol covid dan terlanjur diberitakan sebagai korban covid.Karena berbagai alasan seperti tergambar di atas pula Dr. Stoian Alexov, ahli pathologi di Eropa, menyebut WHO sebagai organisasi medis kriminal, yang menciptakan ketakutan dan chaos di seluruh dunia tanpa memberikan bukti wabah yang dapat diverifikasi dan obyektif. Telah banyak kritikan yang mengatakan bahwa data korban tidak valid dan murni sebab selalu ada penyakit lain yang menyertai/komplikasi.Kecurigaan kemudian lebih mengarah pada kepentingan bisnis farmasi dan peralatan medis mengingat seruan yang terus-menerus digaungkan untuk menunggu vaksin sebagai satu-satunya harapan. Fakta di lapangan menyatakan dengan gamblang bahwa semua orang di seluruh dunia selama ini yang didiagnosa terinfeksi jelas berhasil sembuh tanpa vaksin. Proyeksi yang mengatakan akan berdampak penularan dan korban masif ternyata juga tidak terbukti di sementara wilayah yang sangat longgar dalam mengikuti protokol WHO.Dari cara kerja vaksin sebenarnya juga sangat jelas dan gamblang bahwa vaksin juga bukan obat melainkan virus yang dilemahkan untuk memicu antibody. Ini artinya sangat jelas bahwa antibodilah yang tetap menjadi ujung tombak untuk menangani virus, baik pada orang yang divaksin ataupun tidak. Maka menunggu vaksin sebagai satu-satunya harapan sama sekali bukan jawaban solusi. Rekomendasi penggunaan masker bahkan menimbulkan polemik tentang kurangnya asupan oksigen yang justru malah menurunkan level imunitas tubuh.Jika imunitas tubuh menurun tentu saja orang mudah sakit dan kebutuhan obat meningkat yang akan menguntungkan industri farmasi serta peralatan medis. inilah mengapa ada dugaan kuat banyak kepentingan industri di balik kebijakan-kebijakan WHO dan bukan demi kesejahteraan umat manusia.Jadilah pribadi merdeka...((( <3 )))...

Sumber: FACEBOOK

Info Yang Benar / Konten Aslinya:
Klaim 1: Telah banyak kritikan yang mengatakan bahwa data korban tidak valid dan murni sebab selalu ada penyakit lain yang menyertai/komplikasi. Narasi ini dilengkapi dengan gambar tangkapan layar artikel dari situs Zaidpub.com berisi pernyataan dokter Stoian Alenov bahwa tidak ada kematian di Eropa yang murni disebabkan oleh Covid-19.Fakta:Hingga 10 Juli 2020 pukul 14.00 WIB, tingkat kematian kasus Covid-19 di Indonesia mencapai 3.417 orang dari total kasus sebanyak 70.736 orang. Jumlah kematian yang diumumkan oleh pemerintah pusat tersebut adalah kasus yang sudah terkonfirmasi positif Covid-19 sesuai hasil tes polymerase chain reaction (PCR).Covid-19 memang memperburuk kondisi kesehatan pasien yang memiliki penyakit penyerta, sehingga menyebabkan kematian lebih dini. Namun, meski tingkat kematian Covid-19 lebih tinggi terjadi pada mereka yang memiliki penyakit penyerta, ditemukan juga pasien yang meninggal tanpa penyakit penyerta.Dikutip dari Detik.com, Direktur Utama Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Rita Rogayah, mengatakan ada 76 pasien Covid-19 yang meninggal dari sebanyak 205 pasien positif Covid-19 di rumah sakitnya pada April 2020. Dari jumlah pasien yang meninggal itu, 65 pasien (86 persen) memiliki penyakit penyerta, sementara 11 pasien (14 persen) lainnya tanpa penyakit penyakit.Kemudian, di Surabaya, Jawa Timur, hingga 15 Juni 2020, terdapat 328 pasien positif Covid-19 yang meninggal. Sebanyak 300 orang di antaranya memiliki penyakit penyerta, sementara 28 orang lainnya tidak mempunyai penyakit bawaan alias meninggal murni karena Covid-19.Pernyataan dokter Stoian Alenov di situs Zaidpub.com pun telah dibantah oleh organisasi pemeriksa fakta Lead Stories. Menurut temuan mereka, sekitar 44.600 orang di Inggris meninggal karena penyakit yang disebabkan oleh virus Corona baru tersebut.Sumber: Kemenkes, Detik.com, IDN Times, dan Lead StoriesKlaim 2: Dokter Andrew Kaufman menyatakan sampel uji Covid-19 tidak dimurnikan sehingga ada kekeliruan identifikasi antara virus dengan exosome yang adalah materi genetik antibodi. Inilah mengapa tes Covid-19 sering merujuk pada antibodi reaktif sebagai acuan untuk deteksi infeksi virus. Tentu saja hasilnya menjadi sering meleset sebab antibodi reaktif dapat timbul karena berbagai sebab dan bukan hanya karena oleh Covid-19.Fakta:Uji antibodi di Indonesia dengan rapid test tidak digunakan untuk mendeteksi Covid-19, melainkan hanya untuk penapisan atau screening. Untuk mendeteksi Covid-19, tes yang digunakan di banyak negara, termasuk yang direkomendasikan oleh WHO, adalah tes PCR.Tes PCR tidak mendeteksi virus melalui antibodi, melainkan melalui potongan-potongan materi genetik virus yang terdapat pada lendir, air liur, dan sel-sel di bagian paling belakang rongga hidung. Setelah sampel dikumpulkan, suatu bahan kimia dipakai untuk menghilangkan materi-materi lain sehingga hanya menyisakan materi genetik virus yang disebut RNA. Lalu, enzim ditambahkan ke dalam sampel melalui proses kimia untuk menyalin RNA menjadi DNA, yang kemudian dapat diproses di dalam mesin dan disalin berulang kali. Dengan salinan DNA yang cukup, para ilmuwan kemudian dapat menerapkan tag fluorescent pada sampel yang mengikat potongan spesifik bahan genetik untuk mendeteksi adanya SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19.Meski memiliki akurasi yang lebih tinggi ketimbang tes antibodi (rapid test), tes PCR tetap memiliki potensi negatif palsu. Namun, potensi ini bukan diakibatkan seperti klaim di atas. Negatif palsu bisa terjadi karena tiga hal. Pertama, jika infeksi yang terjadi pada seseorang yang dites masih terlalu dini atau malah terlambat sehingga tidak terdapat virus dalam jumlah yang cukup di sel mereka. Kedua, jika layanan kesehatan tidak mengumpulkan jumlah sampel yang cukup, misalnya swab kurang. Ketiga, jika jarak waktu antara pengambilan sampel dan tes terlalu lama, yang membuat RNA virus terurai.Sumber: Live Science dan The ConversationKlaim 3: Takut, khawatir, dan stres juga dialami para nakes sehingga tidak leluasa menangani pasien dengan akibat justru pasien yang perlu pertolongan dengan segera tidak tertangani. Sering kali kemudian hasil uji lab mendapati mereka yang meninggal tak tertolong ternyata negatif Covid-19 namun dimakamkan dengan protokol Covid-19 dan terlanjur diberitakan sebagai korban Covid-19.Fakta:Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Doni Monardo menegaskan penerapan protokol pemakaman Covid-19 juga harus dilakukan pada pasien dalam pengawasan (PDP), untuk menghindari adanya penularan akibat salah penangangan. "Selama belum ada kepastian tes dari dinas kesehatan di daerah, maka pasien itu tetap diberikan status pasien Covid," ujar Doni pada 20 April 2020.Doni mengatakan tak ingin ada kejadian yang terulang, di mana pasien suspek yang meninggal dimakamkan biasa, kemudian belakangan diketahui hasil tes pasien tersebut positif Covid-19. Karena itu, perlakuan bagi PDP akan sama dengan pasien positif hingga hasil tes lab keluar. Nantinya, Kementerian Kesehatan yang bakal mengumumkan pasien tersebut dinyatakan positif atau negatif."Untuk menghindari agar tidak terjadi lagi pasien yang meninggal non-Covid-19 atau Covid-19 salah dalam melakukan analisis atau mengambil keputusan," kata Doni. Hal ini, menurut Doni, juga menjawab sejumlah pertanyaan mengenai banyaknya pemakaman tertutup dengan protokol Covid-19. Mereka memang tak seluruhnya sudah dinyatakan positif, namun bisa jadi PDP yang meninggal sebelum hasil tesnya keluar atau bahkan belum dites.Sumber: TempoKlaim 4: Fakta di lapangan menyatakan dengan gamblang bahwa semua orang di seluruh dunia selama ini yang didiagnosa terinfeksi jelas berhasil sembuh tanpa vaksin. Dari cara kerja vaksin sebenarnya juga sangat jelas dan gamblang bahwa vaksin juga bukan obat melainkan virus yang dilemahkan untuk memicu antibodi. Ini artinya sangat jelas bahwa antibodilah yang tetap menjadi ujung tombak untuk menangani virus, baik pada orang yang divaksin ataupun tidak.Fakta:Hadirnya vaksin telah mencegah setidaknya 10 juta kematian pada 2010-2015. Jutaan orang di seluruh dunia pun terlindungi dari penderitaan dan kecacatan yang terkait dengan penyakit seperti pneumonia, diare, batuk rejan, campak, dan polio. Program imunisasi yang berhasil juga memungkinkan prioritas nasional, seperti pendidikan dan pembangunan ekonomi, dapat bertahan.Dikutip dari CDC, vaksin memberikan kekebalan pada tubuh untuk melawan penyakit tertentu. Sistem kekebalan mengenali virus atau kuman yang masuk ke dalam tubuh sebagai "penyerbu asing" (disebut antigen), dan tubuh menghasilkan protein yang disebut antibodi untuk melawannya.Saat seorang anak terinfeksi untuk pertama kalinya oleh antigen spesifik (misalnya virus campak), sistem kekebalan bakal menghasilkan antibodi yang dirancang untuk melawannya. Namun, sistem kekebalan biasanya tidak bekerja cukup cepat untuk mencegah antigen yang menyebabkan penyakit, sehingga si anak akan tetap sakit. Namun, sistem kekebalan “mengingat” antigen itu. Jika masuk ke tubuh lagi, bahkan setelah bertahun-tahun, sistem kekebalan dapat menghasilkan antibodi dengan cukup cepat sehingga tidak menyebabkan penyakit untuk kedua kalinya. Perlindungan ini disebut kekebalan.Vaksin mengandung antigen yang sama (atau bagian antigen) yang menyebabkan penyakit. Misalnya, vaksin campak mengandung virus campak. Tapi antigen dalam vaksin sudah dilemahkan sehingga tidak menyebabkan sakit. Namun, mereka cukup kuat untuk membuat sistem kekebalan tubuh agar menghasilkan antibodi. Dengan kata lain, vaksin adalah pengganti yang lebih aman untuk paparan pertama anak terhadap suatu penyakit. Anak mendapat perlindungan tanpa harus sakit. Melalui vaksinasi, anak dapat mengembangkan kekebalan tanpa menderita penyakit yang sebenarnya yang dapat dicegah oleh vaksin.Sumber: WHO dan CDC


Sumber: cekfakta.tempo.co/fakta/877/fakta-atau-hoaks-benarkah-tidak-ada-kematian-yang-murni-disebabkan-oleh-Covid-19

Tanggal & Jam Pendataan: 2020/07/17 02:37:13 PM GMT+7