Kesehatan - Pandemi
Yang bikin banyak positif bukan acara pernikahannya, tapi testnya

Akun Facebook Bii mengunggah gambar hasil tangkapan layar artikel radarbali.jawapos.com berjudul “Duh, Usai Gelar Acara Pernikahan, 21 Warga Klungkung Positif Covid-19” disertai dengan narasi yang mengklaim banyak yang positif Covid-19 bukan karena acara pernikahan melainkan tes rapid, swab, dan lainnya menjadi penyebab utama banyaknya angka positif Covid-19. Narasi:“Yang bikin banyak positif bukan acara pernikahannya, tapi testnya.Coba seandainya kagak usah test2an, rapid, swab, dll.Mereka akan hidup damai sentosa tanpa ada apa-apa. ????”

Sumber: FACEBOOK

Info Yang Benar / Konten Aslinya:
Untuk membuktikan klaim tersebut,menghubungi dr. Muhamad Fajri Adda'i, yang merupakan dokter relawan covid-19 dan edukator kesehatan."Kalau menurut saya, ini kesalahan mindset. Alat tes itu kemampuannya untuk mendeteksi, bukan sebaliknya karena dia dikasih virus sama alat tersebut. Ya tidak begitu," katanya melalui WhatsApp, Rabu (10/2/2021)."Misalnya gini, seseorang mempunyai penyakit, ya dicek pakai alat supaya tidak menularkan. Ini pemikiran golongan tertentu yang tidak percaya virus covid-19 nyata dan ujungnya termakan hoaks," ucap dr Fajri menambahkan.Lebih lanjut, dr Fajri menambahkan, tes PCR, rapid, dan swab ini menghidupkan ekonomi masyarakat. Dia berharap, masyarakat tidak termakan isu itu."Sekarang mikirnya begini, kalau tidak dites, terus angkanya (kasus positif covid-19) semakin meningkat, berarti tidak ada acara dan ekonomi tutup. Nanti malah banyak pengangguran.""Ini ada kesalahpahaman. Dites itu untuk containment (membendung), minimal karantina 14 hari supaya tidak menyebar. Ini kesalahpahaman yang sangat mendasar," ucapnya menegaskan.Cek Fakta Liputan6.com juga mendapatkan penjelasan dari Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, Prof. Zullies Ikawati, Ph.D., Apt tentang rapid test. Begini penjelasannya:"Rapid Test hanya mengidentifikasi dari keberadaan antibodi, di mana jika terjadi peningkatan antibodi, maka hasil test bisa reaktif. Antibodi sendiri adalah senyawa protein yang dihasilkan oleh sistem imun secara spesifik terhadap antigen tertentu. Misalnya, terjadi infeksi virus SARSCoV-2, maka akan terbentuk antibodi terhadap virus SARS-CoV2 atau corona. Masalahnya, alat tersebut apakah cukup spesifik dalam mendeteksi antibodi terhadap virus SARS-CoV2.Jika tidak cukup spesifik, maka jika ada antibodi terhadap virus yang lain seperti flu. Bisa jadi Rapid test itu menunjukkan hasil reaktif juga, yang berarti false positif, atau positif yang palsu thd virus corona. Sementara kita tahu bahwa alat Rapid test itu banyak ragamnya dan kualitasnya.Sebaliknya, bisa terjadi negatif palsu jika test dilakukan pada saat antibodi belum terbentuk, sementara sebetulnya orang itu terinfeksi virus corona. Hal ini terjadi karena untuk membentuk antibodi dibutuhkan waktu, bisa sekitar 7 hari untuk mencapai jumlah yang bisa terdeteksi. Kalau seperti ini bisa terlihat hasil non-reaktif, makanya biasanya harus diulang lagi utk memastikan. Namun, yang paling akurat memang langsung dilakukan swab test."


Sumber: www.liputan6.com/cek-fakta/read/4479684/cek-fakta-hoaks-kasus-positif-covid-19-melonjak-gara-gara-tes-pcr-simak-kebenarannya

Tanggal & Jam Pendataan: 2021/02/16 09:39:43 AM GMT+7