|
Danu Kastomi (Danu) Pria gagah ini tinggal di Pondok Cabe, Tangsel, Banten. Karyawan kementrian Perhubungan sebagai bagian dari tim yang bertugas memantau aksesibilitas bagi Pendis atas semua fasilitas umum nasional. Dia juga anggota JBFT (Jakarta Barrier Free Tourism. Kisah disabilitasnya yaitu saat Danu kecil berusia 5 tahun tinggal di Bangka, Waktu itu tahun 1970 kebetulan belum ada suntik vaksin polio. Sebagai balita yang lucu menggemaskan dia mulai bersemangat masuk sekolah. Saat itu dia pulang sekolah (yang jaraknya cukup jauh) sesampai di rumah Danu kecil merasakan pusing dan tidak nafsu makan lalu disuruh beli obat ke warung dan tidur siang. Sore harinya ketikan akan mandi tiba-tiba ia tersungkur sekujur tubuhnya lemas tak berdaya dan orang tuanya membawa Danu ke beberapa Rumah Sakit dan terakhir dirawat di suatu Rumah Sakit selama 3 bulan tidak ada perkembangan akhirnya keluarganya pasrah dan membawa Danu pulang. Hari demi hari dilalui akhirnya Danu kecil yang pantang menyerah penuh semangat terus mencoba dan akhirnya dia bisa duduk tegak sejak saat itulah dia terus hidup tegar sebagai penyandang disabilitas Polio. Harapan hidupnya mulia yakni bisa lebih bermanfaat bagi keluarga dan banyak orang. Tentu atas harapan seindah itu mari kita doakan semoga terus terlaksana. Bersama istrinya dia bertahun-tahun selalu berupaya membantu bukan kepada sesama Pendis saja tetapi juga kepada semua orang yang bisa mereka bantu. Kebetulan hobi seorang Danu itu sama dengan Istrinya mereka berdua senang traveling jadi setelah membantu kesana-kemari lalu pulangnya mereka menyempatkan menikmati lokasi setempat. Pandangan Danu terhadap DiMA adalah dengan ilmu telematika yang dia peroleh ingin bisa bantu banyak disabilitas demi mewujudkan kemandirian mereka. Danu merasakan banyak manfaat ilmu telematika yang diperoleh dari DiMA untuk membantu kegiatannya sehari-hari. |